Absensi Jasmine Hot! Page
Sejak hari itu, Bu Ratna membuat peraturan baru di kelasnya: setiap pagi, sebelum absensi dimulai, semua siswa diminta menulis satu kata tentang perasaannya di selembar kertas kecil, tanpa nama. Lalu Bu Ratna mengumpulkannya. Bukan untuk dihukum, tapi untuk dibaca.
Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih.
Dan Jasmine? Ia lulus dengan nilai yang biasa saja, tapi ia tumbuh menjadi wanita yang kelak, di tempat kerjanya, akan selalu memperhatikan rekan yang paling sunyi, dan diam-diam menuliskan titik kecil di hatinya untuk mereka. Absensi bukan sekadar catatan hadir atau tidak. Kadang, di balik sebuah nama, ada kisah yang butuh dilihat, bukan sekadar dicoret. absensi jasmine
Bu Ratna menghela napas panjang. Ia menuliskan keterangan “S” (Sakit—keterangan untuk keluarga) dengan agak menekan. Di dalam hati, ia khawatir. Bukan hanya soal nilai, tapi tentang beban yang dipikul gadis seusia Jasmine.
Jasmine bukan siswa yang malas. Sejak kelas X, ia dikenal sebagai anak yang paling cepat datang, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai menyapu. Tapi sejak ayahnya dirawat di rumah sakit karena stroke, semuanya berubah. Jasmine mulai sering terlambat. Kadang tidak masuk sama sekali. Sejak hari itu, Bu Ratna membuat peraturan baru
Setiap pagi, pukul 06.45, Bu Ratna, guru wali kelas XII IPA 1, selalu memegang buku absensi biru tua. Buku itu sudah lusuh di sudut-sudutnya, tetapi masih setia mencatat kehadiran tiga puluh dua siswa. Namun, selama sebulan terakhir, ada satu nama yang selalu menyisakan tanda tanya: .
Di akhir semester, buku absensi biru tua itu sudah diganti dengan yang baru. Tapi halaman terakhir buku lama, yang berisi nama Jasmine sepanjang dua bulan terakhir, masih disimpan Bu Ratna di laci mejanya. Di samping setiap tanggal, ada titik-titik kecil yang baginya berarti: Hari Selasa, Jasmine hadir
Jasmine menggeleng pelan. Air matanya jatuh. Ruang kelas hening.
