Guru Dan — Murid
Guru belajar dari tatapan murid, dari keberaniannya bertanya, dari kegagalan yang tak malu diakui. Murid belajar dari ketekunan guru, dari cara ia tak lelah mengulang, dari keikhlasan yang tak tercatat di rapor.
Dalam setiap lembar waktu yang terukir, Guru berdiri di pangkal jalan, menunjuk arah dengan sabar, meski kadang langkah murid terhuyung, ragu, atau bahkan berbalik. guru dan murid
Murid datang dengan mata bertanya, dengan hati yang masih meraba-raba. Ia bukan bejana kosong yang pasif, tapi api kecil yang menunggu ditiup, bukan tanah liat yang lunak, tapi benih yang membawa dunia di dalamnya. Murid datang dengan mata bertanya, dengan hati yang
Maka di ruang-ruang kelas yang sempit, atau di bawah pohon rindang di lapangan, terjadi dialog bisu yang hebat: saling memberi, saling mengoreksi, saling membebaskan. Hubungan ini bukanlah rantai, bukan pula tangga yang
Hubungan ini bukanlah rantai, bukan pula tangga yang mengangkat satu lebih tinggi. Ia adalah lingkaran — karena suatu hari murid akan menjadi guru, bagi dirinya sendiri, bagi orang lain, bahkan kadang bagi guru yang dulu mengajar.
Guru bukan hanya pemberi rumus, bukan sekadar penjaga papan hitam. Guru adalah sungai yang mengalir tenang, mengisi cekungan-cekungan kosong di kepala yang masih haus akan makna.